Minggu, 05 Agustus 2012

adit i ove you


ADIT I LOVE YOU
Dari hari ke hari, aku hanya bisa duduk termenung memandangi keindahan rerumputan hijau yang berayun kesana kemari, bunga bunga indah yang ditiupkan angin, burung burung berkicau riang terbang kesana kemari mengelilingi indahnya suasana di sekitar rumah pagi ini. Sayangnya,  aku hanya bisa memandangi semua keindahan itu hanya dari dalam kamar kecilku ini. Aku tak berdaya untuk melakukan apapun. Semua karena penyakit yang kuderita. Kanker ganas yang sudah hampir 10 tahun ini aku deritalah yang memaksaku untuk duduk termenung disini memandangi teman teman sebayaku yang bisa bersekolah serta bermain dengan riang. Aku mengerti orang tuaku bukanlah orang yang berpenghasilan, orang tua ku hanya seorang petani. Jadi harapan untuk sembuh pun hanya kemungkinan kecil. Kadang sempat terfikir olehku kenapa hanya aku yang menderita kanker ganas ini! Apa salah ku! Mengapa tuhan begitu berat memberikan cobaan ini untuku. Kenapa! Kenapa! Kenapa, dunia begitu kejam padaku! Kenapa tuhan??
Sekejap lamunanku terhenti, aku melihat ada seorang laki laki sebayaku yang memandangiku lalu kemudian tersenyum kepadaku. Siapa dia? Fikirku dalam hati. Aku tak menghiraukannya, yang kulakukan hanyalah menutup kain jendelaku dan pergi meninggalkannya.
Keesokan harinya, seperti biasa aku hanya bisa duduk termenung dan memandagi keindahan alam di sekitar rumah. Dalam sekejap mataku terhenti melihat ada seorang laki laki sebayaku yang kemarin memandangiku pun datang lagi. Sebenarnya siapa dia? Apa yang ingin ia lakukan? Pandanganku tak henti memandanginya. Kali ini ia seperti ingin melakukan sesuatu. Tapi apa?
Yah...dia memainkan sebuah lagu dengan menggunakan gitar ditangannya, lagu itu sangat indah, seakan denyut nadi dan jantungku terhenti karena terhanyut dalam alunan musik yang ia bawakan. Siapa sebenarnya laki laki ini?.
“ Hey! Bolehkah aku berkenalan denganmu? Namaku Adit” teriaknya dari samping rumahku. Aku hanya terdiam, fikiranku tak karuan ada rasa takut dan ada rasa ingin tahu siapakah dia. ”Hey! Ayolah aku tidak akan menyakitimu, aku hanya ingin berkenalan denganmu itu saja.” Ujarnya dari luar. Aku pun memberanikan diri membukakan pintu rumahku dan berkenalan dengannya hanya untuk sekedar melepaskan rasa penasaranku.
”Siapa namamu?” tanyanya sambil mengulurkan tangan. “Namaku Mini” jawabku. “Wah! Nama yang indah, aku lihat kamu selalu saja duduk di samping jendela itu, apakah kamu tidak sekolah?” tanyanya lagi. “Tidak!” jawabku, “Kenapa? Apakah kau sakit wajahmu begitu pucat?”. “Iya, benar aku sakit! Aku menderita kanker kanker ganas” jawabku. ”Oooh...maafkan aku aku tidak bermaksud menyinggung mu”. “Tidak apa apa kok, apakah kau mau berteman denganku?” tanyaku sambil mengulurkan tanganku. “Tentu” jawabnya dengan semangat.
Semenjak saat itulah, jalinan pertemanan diantara kami pun berlanjut. Adit selalu datang membawakanku makanan, menyanyikan ku lagu lagu indah yang ia ciptakan sendiri, tak hanya itu ia selalu datang saat ak membutuhkannya. Itu membuatku begitu senang. Aku merasa mempunyai teman dan aku juga merasa semangatku untuk sembuh dari penyakitku kembali ada karna Adit. Tapi, ntah kenapa aku merasa di dalam lubuk hatiku paling dalam bukan sekedar rasa sayang sebagai sahabat tetapi lebih dari itu. Aku tak mengerti kenapa rasa ini harus hadir diantara aku dan Adit. Aku merasa terbebani dengan semua ini.
Hari ini, aku memberanikan diriku untuk mengatakannya kepada Adit, ntah kenapa hari ini aku merasa kondisiku semakin menurun. Aku takut aku tak sempat mengatakannya nanti.  “Dit?” tanyaku. “Iya? Kenapa?” belum sempat aku bertanya aku merasa seperti badanku lemas, semua pandangan berbayang bayang di mataku, darah mengalir deras dari hidungku. Sekejap aku terpingsan di pangkuan Adit.
Beberapa saat kemudian, aku terbangun dan memandangi sekelilingku. Dimana sebenarnya aku? Fikirku. Ya aku tau aku di sebuah rumah sakit... Tak lama kemudian terdengar seperti suara laki laki yang berteriak dari luar. Seperti berteriak marah. Sepertinya aku mengenali suara laki laki itu. Suaranya terdengar seperti suara Adit.  Kemudian terdengan suara langkah kaki berjalan menuju kamarku dan membuka pintu kamarku, dengan pandangan yang samar samar aku lihat Adit mendekatiku dan memelukku erat.
“Mini?” tanyanya dengan mata agak sedikit berkaca kaca. “Aaa..dit? apa yang kau lakukan?” tanyaku heran. Adit hanya terdiam ia tak bisa menahan air mata yang mengalir dari pipinya. Aku tau sepertinya Adit mengetahui sesuatu hal, bahwa mungkin waktuku takkan lama lagi. Tapi aku akan tetap mencoba tersenyum dihadapannya.
“Hey Adit, ayo kita keluar udara disini sangat tidak enak!” ajakku mengalihkan suasana. “Hey kenapa diam saja bantu aku! Dasar bodoh!”tanyaku lagi sambil berusaha bangun dari tempat tidur. “Mini? Kau mau kemana? Kau belum sembuh total!” jawabnya marah. Adit mencoba menahanku tetapi aku tetap bersih keras untuk keluar. Mau tak mau Adit membantuku berdiri dan menggendongku duduk di kursi roda.
“Dit, tau nggak sih kamu?” tanyaku “Apa?” jawabnya malas. “Aku ingin suatu saat nanti aku bisa pergi berdua dengan orang yang aku cintai kesebuah tempat, dimana hanya ada aku dan dia duduk di bawah sebuah pohon indah dan rindang memandangi langit yang indah bersama. Tapi, apakah mungkin aku bisa pergi kesana?dengan kondisiku seperti ini?” Adit hanya terdiam tak menjawab apapun. “Adit kamu denger nggak sih aku ngomong?” tanyaku sebal. “Oh...Ahh...Iya aku dengar”  jawabnya. “Syukur deh kalo kamu dengar!” jawabkku sebal. “Ayo kita pergi!” ajak adit. Aku terdiam tidak mengerti yang adit katakan, kemudian tiba tiba ia pergi meninggalkanku sendirian, dan beberapa saat kemudian ia kembali lagi dengan membawa tas ransel di punggungnya.
“Lho? Mau kemana Dit?” tanyaku heran. “Bukkankah kau ingin pergi ke tempat itu?” tanya Adit. “Tapi?” tanpa basa basi adit langsung menggendongku dan pergi meninggalkan rumah sakit. Dengan hanya berbekal sepeda dan makanan di ransel, adit membawaku pergi. Aku semakin tak mengerti Adit begitu perhatian denganku, aku tau tempat itu sangat jauh tetapi kenapa Adit begitu semangat membawaku kesana? Apakah Adit juga mempunyai perasaan yang sama denganku?.
Waktu demi waktu berlalu, aku semakin tidak berdaya, badanku lemas, semakin lama semakin banyak darah yang mengalir dari hidungku. Aku merasa waktuku memang sudah tak banyak lagi. Melihat kondisiku Adit semakin bersih keras mendayung sepedanya tanpa lelah dan akhirnya kami sampai di tempat indah ini. Dibawah pohon inilah aku dan Adit bersandar dan memandangi matahari terbenam bersama, Adit terus membelai rambutku dengan lembut. Aku merasa inilah waktu yang tepat untuk mengucapkannya pada Adit bahwa aku mencintainya. Aku tak mau menunggu terlalu lama karna waktuku mungkin takkan lama lagi.
“Dit?” tanyaku . “ Iya, kenapa? Kau suka kan dengan tempat ini lain kali aku akan membawamu kemari” jawabnya dengan mata yang berkaca kaca. “Dit?” tanyaku lagi. “Iya?”. Dengan darah yang terus mengalir di hidungku aku memberanikan diri menatap Adit mencium keningnya sambil membisikan kata kata di telinganya “ADIT I LOVE YOU!" dengan sekejap aku terbujur kaku di pangkuannya. Aku merasa ini sudahlah cukup bagiku tanpa harus tau perasaannya padaku.
BIODATA
Nama               : RESTU FITRIANI
Asal Sekolah   : SMAN 5 KOTA JAMBI
No HP             : 081994662490

Tidak ada komentar:

Posting Komentar