ADIT I LOVE YOU
Dari
hari ke hari, aku hanya bisa duduk termenung memandangi keindahan rerumputan
hijau yang berayun kesana kemari, bunga bunga indah yang ditiupkan angin,
burung burung berkicau riang terbang kesana kemari mengelilingi indahnya
suasana di sekitar rumah pagi ini. Sayangnya,
aku hanya bisa memandangi semua keindahan itu hanya dari dalam kamar
kecilku ini. Aku tak berdaya untuk melakukan apapun. Semua karena penyakit yang
kuderita. Kanker ganas yang sudah hampir 10 tahun ini aku deritalah yang
memaksaku untuk duduk termenung disini memandangi teman teman sebayaku yang
bisa bersekolah serta bermain dengan riang. Aku mengerti orang tuaku bukanlah
orang yang berpenghasilan, orang tua ku hanya seorang petani. Jadi harapan
untuk sembuh pun hanya kemungkinan kecil. Kadang sempat terfikir olehku kenapa
hanya aku yang menderita kanker ganas ini! Apa salah ku! Mengapa tuhan begitu
berat memberikan cobaan ini untuku. Kenapa! Kenapa! Kenapa, dunia begitu kejam
padaku! Kenapa tuhan??
Sekejap
lamunanku terhenti, aku melihat ada seorang laki laki sebayaku yang
memandangiku lalu kemudian tersenyum kepadaku. Siapa dia? Fikirku dalam hati.
Aku tak menghiraukannya, yang kulakukan hanyalah menutup kain jendelaku dan
pergi meninggalkannya.
Keesokan
harinya, seperti biasa aku hanya bisa duduk termenung dan memandagi keindahan
alam di sekitar rumah. Dalam sekejap mataku terhenti melihat ada seorang laki
laki sebayaku yang kemarin memandangiku pun datang lagi. Sebenarnya siapa dia?
Apa yang ingin ia lakukan? Pandanganku tak henti memandanginya. Kali ini ia
seperti ingin melakukan sesuatu. Tapi apa?
Yah...dia
memainkan sebuah lagu dengan menggunakan gitar ditangannya, lagu itu sangat
indah, seakan denyut nadi dan jantungku terhenti karena terhanyut dalam alunan
musik yang ia bawakan. Siapa sebenarnya laki laki ini?.
“
Hey! Bolehkah aku berkenalan denganmu? Namaku Adit” teriaknya dari samping
rumahku. Aku hanya terdiam, fikiranku tak karuan ada rasa takut dan ada rasa
ingin tahu siapakah dia. ”Hey! Ayolah aku tidak akan menyakitimu, aku hanya
ingin berkenalan denganmu itu saja.” Ujarnya dari luar. Aku pun memberanikan
diri membukakan pintu rumahku dan berkenalan dengannya hanya untuk sekedar
melepaskan rasa penasaranku.
”Siapa
namamu?” tanyanya sambil mengulurkan tangan. “Namaku Mini” jawabku. “Wah! Nama
yang indah, aku lihat kamu selalu saja duduk di samping jendela itu, apakah
kamu tidak sekolah?” tanyanya lagi. “Tidak!” jawabku, “Kenapa? Apakah kau sakit
wajahmu begitu pucat?”. “Iya, benar aku sakit! Aku menderita kanker kanker
ganas” jawabku. ”Oooh...maafkan aku aku tidak bermaksud menyinggung mu”. “Tidak
apa apa kok, apakah kau mau berteman denganku?” tanyaku sambil mengulurkan
tanganku. “Tentu” jawabnya dengan semangat.
Semenjak
saat itulah, jalinan pertemanan diantara kami pun berlanjut. Adit selalu datang
membawakanku makanan, menyanyikan ku lagu lagu indah yang ia ciptakan sendiri,
tak hanya itu ia selalu datang saat ak membutuhkannya. Itu membuatku begitu
senang. Aku merasa mempunyai teman dan aku juga merasa semangatku untuk sembuh
dari penyakitku kembali ada karna Adit. Tapi, ntah kenapa aku merasa di dalam lubuk
hatiku paling dalam bukan sekedar rasa sayang sebagai sahabat tetapi lebih dari
itu. Aku tak mengerti kenapa rasa ini harus hadir diantara aku dan Adit. Aku
merasa terbebani dengan semua ini.
Hari
ini, aku memberanikan diriku untuk mengatakannya kepada Adit, ntah kenapa hari
ini aku merasa kondisiku semakin menurun. Aku takut aku tak sempat
mengatakannya nanti. “Dit?” tanyaku.
“Iya? Kenapa?” belum sempat aku bertanya aku merasa seperti badanku lemas,
semua pandangan berbayang bayang di mataku, darah mengalir deras dari hidungku.
Sekejap aku terpingsan di pangkuan Adit.
Beberapa
saat kemudian, aku terbangun dan memandangi sekelilingku. Dimana sebenarnya
aku? Fikirku. Ya aku tau aku di sebuah rumah sakit... Tak lama kemudian
terdengar seperti suara laki laki yang berteriak dari luar. Seperti berteriak
marah. Sepertinya aku mengenali suara laki laki itu. Suaranya terdengar seperti
suara Adit. Kemudian terdengan suara
langkah kaki berjalan menuju kamarku dan membuka pintu kamarku, dengan
pandangan yang samar samar aku lihat Adit mendekatiku dan memelukku erat.
“Mini?”
tanyanya dengan mata agak sedikit berkaca kaca. “Aaa..dit? apa yang kau lakukan?”
tanyaku heran. Adit hanya terdiam ia tak bisa menahan air mata yang mengalir
dari pipinya. Aku tau sepertinya Adit mengetahui sesuatu hal, bahwa mungkin
waktuku takkan lama lagi. Tapi aku akan tetap mencoba tersenyum dihadapannya.
“Hey
Adit, ayo kita keluar udara disini sangat tidak enak!” ajakku mengalihkan
suasana. “Hey kenapa diam saja bantu aku! Dasar bodoh!”tanyaku lagi sambil
berusaha bangun dari tempat tidur. “Mini? Kau mau kemana? Kau belum sembuh
total!” jawabnya marah. Adit mencoba menahanku tetapi aku tetap bersih keras
untuk keluar. Mau tak mau Adit membantuku berdiri dan menggendongku duduk di
kursi roda.
“Dit,
tau nggak sih kamu?” tanyaku “Apa?” jawabnya malas. “Aku ingin suatu saat nanti
aku bisa pergi berdua dengan orang yang aku cintai kesebuah tempat, dimana
hanya ada aku dan dia duduk di bawah sebuah pohon indah dan rindang memandangi
langit yang indah bersama. Tapi, apakah mungkin aku bisa pergi kesana?dengan
kondisiku seperti ini?” Adit hanya terdiam tak menjawab apapun. “Adit kamu
denger nggak sih aku ngomong?” tanyaku sebal. “Oh...Ahh...Iya aku dengar” jawabnya. “Syukur deh kalo kamu dengar!” jawabkku
sebal. “Ayo kita pergi!” ajak adit. Aku terdiam tidak mengerti yang adit
katakan, kemudian tiba tiba ia pergi meninggalkanku sendirian, dan beberapa
saat kemudian ia kembali lagi dengan membawa tas ransel di punggungnya.
“Lho?
Mau kemana Dit?” tanyaku heran. “Bukkankah kau ingin pergi ke tempat itu?”
tanya Adit. “Tapi?” tanpa basa basi adit langsung menggendongku dan pergi
meninggalkan rumah sakit. Dengan hanya berbekal sepeda dan makanan di ransel,
adit membawaku pergi. Aku semakin tak mengerti Adit begitu perhatian denganku,
aku tau tempat itu sangat jauh tetapi kenapa Adit begitu semangat membawaku
kesana? Apakah Adit juga mempunyai perasaan yang sama denganku?.
Waktu
demi waktu berlalu, aku semakin tidak berdaya, badanku lemas, semakin lama
semakin banyak darah yang mengalir dari hidungku. Aku merasa waktuku memang
sudah tak banyak lagi. Melihat kondisiku Adit semakin bersih keras mendayung
sepedanya tanpa lelah dan akhirnya kami sampai di tempat indah ini. Dibawah
pohon inilah aku dan Adit bersandar dan memandangi matahari terbenam bersama,
Adit terus membelai rambutku dengan lembut. Aku merasa inilah waktu yang tepat
untuk mengucapkannya pada Adit bahwa aku mencintainya. Aku tak mau menunggu
terlalu lama karna waktuku mungkin takkan lama lagi.
“Dit?”
tanyaku . “ Iya, kenapa? Kau suka kan dengan tempat ini lain kali aku akan
membawamu kemari” jawabnya dengan mata yang berkaca kaca. “Dit?” tanyaku lagi.
“Iya?”. Dengan darah yang terus mengalir di hidungku aku memberanikan diri
menatap Adit mencium keningnya sambil membisikan kata kata di telinganya “ADIT
I LOVE YOU!" dengan sekejap aku terbujur kaku di pangkuannya. Aku merasa
ini sudahlah cukup bagiku tanpa harus tau perasaannya padaku.
BIODATA
Nama :
RESTU FITRIANI
Asal Sekolah : SMAN 5 KOTA JAMBI
No HP : 081994662490

Tidak ada komentar:
Posting Komentar